header fadmalalala

Inner Child: Termasuk Dampak Luka Masa Lalu kah?

Konten [Tampil]
inner child

Apakah kamu mengetahui apa itu inner child? Ya memang, akhir-akhir ini banyak sekali yang membahas tentang inner child. Bagaimana cara mengatasi inner child itu sendiri, hingga apa saja penyebabnya.

Banyak juga yang sering mengatakan kalau kita ingin 'healing' dan bebas dari kegiatan sehari-hari. Baik itu kerja, maupun kegiatan rumah tangga. Healing sebagai antisipasi untuk mengembalikan mood kita. Agar tetap waras dan bisa bebas walau hanya sebentar saja. Apakah itu termasuk inner child?

Alhamdulillah, hari sabtu kemarin aku diberi kesempatan oleh komunitas ISB mengikuti webinar tentang Inner Child. Bersama sepasang narasumber hebat yaitu Ibu Diah Mahmudah, S.Psi (Psikolog) dan Bapak Dandi Birdy, S.Psi (Psikoterapi & Founder Biro Dandiah). Mereka berdua merupakan sepasang suami dan istri yang sehari-harinya bertatap muka dengan berbagai macam orang untuk membantu mengatasi berbagai masalah yang dihadapi.

Pada kesempatan kali ini kami diberikan sedikit materi dengan ilmu yang mendalam dengan tema "Bertemu Dengan Inner Child". Masyaa Allah, ilmunya sangat bermanfaat dan sangat daging sekali.

Kita tidak mau bukan innerchild terganggu sehingga menyebabkan gangguan psikologis di mental kita? Untuk itu, kita bahas bersama dan mencoba memahami apa itu inner child dan apa saja yang harus kita lakukan.

Memahami Tentang Inner Child

Apakah kamu pernah menyadari bertemu dengan inner child yang sedang terluka? Bagaimana sih sebuah inner child itu menjadi terluka? Dan bagaimana kita menyadarinya?

Ada sebuah cerita, tentang seorang ibu yang sering kali marah dengan anaknya yang berusia 10 tahun. Anak sering main si ibu marah, anak dirumah terus ibu marah, sampai pengendalian emosi ibu tersebut tidak terkontrol. Sehingga merusaknya hubungan antar orang tua dengan anak, bahkan dengan suami dan lingkungan sekitar.

Mungkin cerita tersebut terlihat berlebihan. Tapi mungkin saja hal ini adalah suatu hal yang sering kali terjadi. Kondisi saat kita belum bisa mengontrol dan mengendalikan emosi kita inilah yang belum termasuk sebagai happy inner child. Dan dalam kondisi seperti ini kita disarankan untuk berobat ke psikolog. Agar kita bisa mendapatkan happy inner child dan menjadi seorang happy parents.

Karena jika tidak ditangani dan terus berlanjut seperti itu, akan mengganggu kehidupan keluarga bahkan pernikahan kita. Itulah yang diingatkan dari ibu Diah, seorang psikolog yang juga salah satu founder Biro Dandiah.

Berkisah dan berawal dari sebuah pengalaman pribadi, beliau terus belajar dan membagi ilmunya untuk para keluarga khususnya Indonesia agar bisa menjadi happy family. Bisa mengendalikan emosi dan menangani masalah yang dihadapi dari inner child mereka. Sungguh, ini merupakan sebuah PR yang penting untukku.

Karena jujur, mengendalikan emosi itu tidaklah mudah. Kadang aku saja sampai di ingatkan sama anakku sendiri. "Ummi jangan marah yaa..". Rasa sedih langsung menutupi gejolak amarahku. Aku juga tidak ingin anakku merasa bahwa aku sedang marah. Tapi apalah daya, kadang keinginan untuk dikendalikan oleh rasa marah itu lebih besar. Mungkin itu juga salah satu pertemuanku dengan luka inner child diriku di masa lalu.

Tidak hanya Semangat, Tidak hanya Niat, tapi juga butuh Ilmu. [Ibu Diah Mahmudah, S. Psi]

Seperti nasihat dari ibu Diah diatas, bahwa kita memerlukan ilmu untuk mengatasi apa langkah yang harus kita lakukan selanjutnya. Orang tua yang seperti apa yang tepat untuk keluarga? Inilah pola asuh menurut Dandiah.

3 Pola Asuh Parents

Terdapat 3 pola asuh orang tua menurut Dandiah, yaitu:

Abusive

Perilaku orang tua yang bisa melukai psikologis anak inilah yang termasuk abusive. Atau bisa juga disebut dengan toxic parents. Tidak mau bukan anak kita menjadi terluka karena ulah kita sendiri. Karena anak akan merasakan luka dari perbuatan yang kita lakukan. Entah itu berbentuk verbal, maupun non verbal.

Not Supportive

Berbeda dengan toxic parents, orang tua jenis non supportive ini merupakan orang tua yang peduli dengan anak. Bedanya adalah, jika abusive parents orang tuanya tidak ada. Tapi not supportive parents ini orang tuanya ada.

Maksudnya bagaimana? Jadi, jenis orang tua disini adalah tipe orang tua yang cuek. Mereka memberikan semua kebutuhan untuk anak, tapi mereka tidak memberikan cinta. Nah, inilah yang menjadikan anak menjadi kesepian karena tidak ada kasih sayang dari orang tuanya.

Supportive Parents

Jenis orang tua ini adalah orang tua idaman. Inilah yang harus kita kejar untuk menjadi happy family. Karena supportive parent ini memberikan cinta pada anak dan keluarganya. Sehingga tercipta keluarga yang harmonis dan penuh kasih sayang.

Jenis Pola Asuh

Lalu bagaimana jika kita sudah mengalami trauma dari kisah masa lalu kita? Apa yang harus kita lakukan? Nah, inilah beberapa tips untuk mengatasi trauma psikologis kita.

Mengatasi Trauma Psikologis

Trauma psikologis bisa terjadi dari berbagai macam hal. Bisa karena masalah sehari-hari dan juga depresi. Untuk mengatasi trauma khususnya mental psikologis sebaiknya dilakukan dengan hati-hati. Karena kita tidak ingin hati menjadi lebih tersakiti. Dan inilah beberapa tips mengatasi trauma psikologis kita.

1. Tenangkan Diri

Ketika kita merasakan rasa emosi, cemas, sedih, sebaiknya tenangkan diri kita dahulu. Saat menghadapi keaktifan anak, sadar kan diri dan tarik nafas dalam-dalam sebelum emosi kita mengalahkan diri kita.

Sebagai seorang muslim, kita bisa berwudhu dan melakukan sholat sunnah. Agar hati kita lebih tenang, dan serahkan semua perasaan kita pada Allah SWT.

2. Tidak Menyalahkan Diri Sendiri

Kita adalah manusia biasa yang pasti banyak melakukan kesalahan. Dengan kesalahan yang kita buat tersebut, sebaiknya hindari untuk menyalahkan diri sendiri. Lebih baik kita lebih menerima bahwa kita sudah melakukan kesalahan.

Langkah selanjutnya kita bisa bangkit dengan memperbaiki apa yang sudah kita lakukan. Dengan melakukan hal dan memperbaiki kesalahan kita sebelumnya.

3. Rutin Berolahraga

Olahraga adalah salah satu hal yang baik tidak hanya untuk badan kita saja, tetapi juga pikiran dan hati kita. Dengan berolahraga, maka kita akan mengeluarkan hormon endorfin, yaitu hormon bahagia.

Perlu diperhatikan juga ya untuk ibu rumah tangga. Bahwa jenis olahraga yang dimaksud bukan pekerjaan rumah tangga. Karena itu merupakan dua hal yang berbeda. Olahraga bisa dilakukan didalam rumah maupun luar rumah, seperti bersepeda, jogging, renang, atau hanya mengikuti gerakan pemanasan di Youtube juga bisa.

4. Fokus Pada Hal Penting

Disaat kita sedang depresi atau banyak masalah, pasti sulit untuk berpikir positif agar trauma tidak terjadi. Untuk itu, kita bisa melakukan sesuatu hal penting dan fokus pada kegiatan tersebut.

Kita bisa fokus dengan hal penting yang lebih bermanfaat dan berkualitas sehingga bisa meningkatkan kualitas hidup kita. Dengan fokus tersebut, kita bisa beralih dari depresi menjadi produktif. 

5. Mencari Bantuan

Jika berbagai cara untuk mengatasi trauma secara mandiri tidak berhasil, sebaiknya kita mencari bantuan orang lain. Kita bisa berbicara pada saudara, orang tua, atau sahabat tentang masalah kita. Bisa juga kita meminta bantuan para ahli seperti psikolog atau psikiater.

Karena trauma psikologis dan mental memang harus ditangani dengan cara yang benar. Dengan menangani dengan langkah dan cara yang benar, kita bisa mendapatkan solusi dari permasalahan kita. Dan sebaiknya kita menghindari untuk kita pendam sendiri.

Quotes

Semoga keluarga kita selalu diberi kebahagiaan, kasih sayang, dan cinta antar anggota keluarga. Tetap Sehat dan Terima Kasih.

Fadmala A
A happy full mom yang menyibukkan diri dengan blog pribadi berisi tentang dunia anak, parenting, wisata, kuliner dan berbagai macam tips dan kisah inspirasi dengan tujuan untuk sekedar sharing bersama.

Related Posts

Posting Komentar